Rabu, 15 Juli 2015

Pemanfaatan Sampah Menjadi Kompos

Manfaat KomposKompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga d iketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:Aspek Ekonomi :
  1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
  1. Mengurangi volume/ukuran limbah
  1. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
  1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah
  1. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
  1. Meningkatkan kesuburan tanah
  1. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
  1. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah
  1. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
  1. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
  1. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
  1. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
  1. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah di antaranya merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur, 1980).
Dasar-dasar PengomposanBahan-bahan yang Dapat DikomposkanPada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya: limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll. Bahan organik yang sulit untuk dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan rambut. Bahan yang paling baik menurut ukuran waktu, untuk dibuat menjadi kompos dinilai dari rasio karbon dan nitrogen di dalam bahan / material organik seperti limbah pertanian: ampas tebu dan kotoran ternak serta tersebut di atas. Bahan organik yang telah disusun oleh Sinaga dkk. (2010) dari berbagai campuran dengan nilai rasio C/N = 35,68 dan kondisi kandungan airnya 50,37%, waktu dekomposisi diperoleh terpendek 28 hari dibanding lainnya.Proses PengomposanProses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan mentah dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan.
Skema Proses Pengomposan AerobikProses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan, karena selama proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.
Gambar profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposanTabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan
Kelompok Organisme
Organisme
Jumlah/gr kompos
Mikroflora
Bakteri; Aktinomicetes; Kapang
109 - 109; 105 108; 104 - 106
Mikrofanuna
Protozoa
104 - 105
Makroflora
Jamur tingkat tinggi
Makrofauna
Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll

Proses pengomposan tergantung pada :
  1. Karakteristik bahan yang dikomposkan
  1. Aktivator pengomposan yang dipergunakan
  1. Metode pengomposan yang dilakukan
Faktor yang memengaruhi proses PengomposanSetiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi, terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu tinggi (sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau dengan menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak senyawa nitrogen.Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan(kelembapan). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
Porositas Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
Kelembapan (Moisture content) Kelembapan memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembapan 40 - 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembapan di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembapan 15%. Apabila kelembapan lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.
Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.
pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.
Kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
Kandungan Bahan Berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
Lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.
Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak, 1992)
Kondisi
Konsisi yang bisa diterima
Ideal
Rasio C/N
20:1 s/d 40:1
25-35:1
Kelembapan
40 – 65 %
45 – 62 % berat
Konsentrasi oksigen tersedia
> 5%
> 10%
Ukuran partikel
1 inchi
bervariasi
Bulk Density
1000 lbs/cu yd
1000 lbs/cu yd
pH
5.5 – 9.0
6.5 – 8.0
Suhu
43 – 66oC
54 -60oC
Strategi Mempercepat Proses PengomposanPengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu: 
  1. Menanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan.
  1. Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
  1. Menggabungkan strategi pertama dan kedua.
Memanipulasi Kondisi PengomposanStrtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan. Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.Menggunakan Aktivator PengomposanStrategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan misalnya cacing tanah. Proses pengomposannya disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan kascing. Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah mikroba, baik bakeri, aktinomicetes, maupuan kapang/cendawan. Saat ini dipasaran banyak sekali beredar aktivator-aktivator pengomposan, misalnya :MARROS Bio-Activa,Green Phoskko(GP-1), Promi, OrgaDec, SuperDec, ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain.
Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara MARROS Bio-Activa dikembangkan oleh para peneliti mikroba tanah yang tergabung dalam sebuah perusahaan swasta. Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik, yaitu: Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum, Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih). Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik). Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain dan tanpa pengadukan secara berkala. Namun, kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembapan agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposakan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan.
Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator PengomposanStrategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah mengabungkan dua strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan.Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposanSeringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengomposan:
  1. Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
  1. Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
  1. Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
  1. Tingkat kesulitan pembuatan kompos
Kontrol proses produksi kompos
  1. Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
  1. Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal.
  1. Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.
Proses pengontrolanProses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:
  1. Monitoring Temperatur Tumpukan
  1. Monitoring Kelembapan
  1. Monitoring Oksigen
  1. Monitoring Kecukupan C/N Ratio
  1. Monitoring Volume
Mutu kompos
  1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
  1. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
  1. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
  • Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
  • Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
  • Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,
  • Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
  • Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
  • Tidak berbau.
Literatur
  • Abdurohim, Oim. 2008. Pengaruh Kompos Terhadap Ketersediaan Hara Dan Produksi Tanaman Caisin Pada Tanah Latosol Dari Gunung Sindur, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository, diunduh 13 Juni 2010.
  • Gaur, D. C. 1980. Present Status of Composting and Agricultural Aspect, in: Hesse, P. R. (ed). Improvig Soil Fertility Through Organic Recycling, Compost Technology. FAO of United Nation. New Delhi.
  • Guntoro Dwi, Purwono, dan Sarwono. 2003. Pengaruh Pemberian Kompos Bagase Terhadap Serapan Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.). Dalam Buletin Agronomi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor.
  • Handayani, Mutia. 2009. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Salam, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository diunduh 13 Juni 2010.
  • Rohendi, E. 2005. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta, sebuah prosiding. Bogor, 17 Februari 2005.
  • Toharisman, A. 1991. Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah.
 

Makala IPA Interaksi antar komponen ekosistem kebun sekolah yang terlihat secara fisik

BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Ekosistem merupakan suatu ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup. Ekosistem terbagi mendajadi 2 (dua), yaitu ekosistem alam dan ekositem buatan. Ekosistem alam adalah ekosistem yang terbentuk secara alami oleh proses alam. Ekosistem buatan adalah ekosistem buatan yang dibuat oleh rekayasa manusia.
Di setiap ekosistem terdapat komponen yang menyususn ekosistem tersebut, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Dalam ekosistem terjadi sebuah interaksi, interaksi antar komponen ekosistem memungkinkan proses kehidupan terus berlangsung dan berkesinambungan. Interaksi antar komponen biotik dalam menjaga keseimbangan ekosistem dapat dilihat dari peristiwa rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Di dalam suatu ekositem, terjadi interaksi antara komunitas dan komunitas lainnya serta dengan lingkungan abiotiknya.
1.2     Pokok Permasalahan
Adapun rumusan masalah dari latar belakang diatas, diantaranya :
1.       Bagaimanakah interaksi yang terjadi antara komponen biotik dan biotik ?
2.       Bagaimanakah interaksi yang terjadi antara komponen biotik dan abiotik ?
3.         Bagaimanakah interaksi yang terjadi antara komponen abiotik dan abiotik ?
1.3     Tujuan Penulisan Laporan
Adapun tujuan dari penyusunan laporan tentang “Interaksi Antar Komponen Di Kebun SMK PGRI 3 Badung ”, diantaranya :
Tujuan umum dari penyusunan laporan, yaitu :
1.       Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Bapak Sudana selaku guru pembimbing dalam mata pelajaran IPA di SMK PGRI 3 Badung.
2.       Mampu menerapkan teori yang di dapat pada saat pembelajaran ke dalam karya tulis.
3.       Mengetahui interaksi-interaksi yang terjadi antar komponen penyusun di kebun SMK PGRI 3 Badung.
Tujuan khusus dari penyusunan laporan, yaitu :
1.       Untuk mengetahui interaksi antar komponen biotik dengan biotik.
2.       Untuk mengetahui interaksi antar komponen biotik dengan abiotik.
3.       Untuk mengetahui interaksi antar komponen abiotik dengan abiotik.

















BAB II
LANDASAN TEORI
2.1     Pengertian Ekosistem
·         Ekosistem adalah suatu ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup.
·         Ekosistem merupakan suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi satu sama lain atau adanya hubungan timbal balik.
·         Ekosistem merupakan suatu sistem alam yang terbentuk dari interaksi antara makhluk hidup dan interaksi antara makhluk hidup dengan faktor lingkungannya pada suatu kawasan tertentu.

2.2     Bentuk Ekosistem
Ada dua (2) bentuk ekosistem, yaitu :
1.    Ekosistem Alami
Ekosistem alami adalah ekosistem yang terjadi dengan sendirinya oleh alam, tanpa campur tangan manusia. Contoh suatu ekosistem alami adalah hutan. Hutan dibedakan antara lain berdasarkan iklim yang melingkupi dan jenis tumbuhan yang mendominasi, contohnya hutan tropis.
2.    Ekosistem Buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang dibuat oleh manusia dengan tujuan tertentu. Ekosistem buatan merupakan ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem ini tidak terbentuk secara alami, tetapi dibuat oleh manusia untuk diambil manfaatnya. Contoh ekosistem buatan adalah akuarium yang dibuat dengan tujuan untuk estetika, waduk yang dibuat dengan tujuan untuk menampung air dan irigasi, sawah, tambak, perkebunan kopi, dan hutan tanaman produksi, seperti jati dan karet.

2.3     Komponen Penyusun Ekosistem
Ø Komponen penyusun ekosistem antara lain :
1.        Komponen Biotik
Komponen biotik penyusun ekosistem terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan organisme mikroskopis. Komponen biotik atau makhluk hidup memiliki ciri dapat berkembang biak. Berdasarkan peranannya di dalam ekosistem, komponen biotik dapat dibedakan menjadi produsen, konsumen, dan dekomposer/pengurai.
2.        Komponen Abiotik
Komponen abiotik merupakan aspek tak hidup yang ada dalam ekosistem. Komponen abiotik di dalam ekosistem misalnya udara (yang tersusun atas nitrogen, oksigen, kerbon dioksida dan gas lainnya), angin, kelembapan, air, tahan, mineral, cahaya, suhu, pH, salinitas atau kadar garam, dan topografi.




















BAB III
PEMBAHASAN
Setelah kami melakukan pengamatan pada salah satu ekosistem buatan yang ada di SMK PGRI 3 Badung yang berupa kebun pada :
hari      : Kamis
tanggal            : 31 Juli 2014
jam      :  09:00-09:20 pagi
Kami melakukan pengamatan mengenai interaksi antara komponen-komponen yang ada di dalam ekosistem tersebut.
ü Hasil dari diskusi dan pengamatan yang kami lakukan antara lain :
Komponen Biotik
Komponen Abiotik
Tawon
Tahan
Pohon mengkudu
Air
Kutu daun
Cahaya Matahari
Semut
Sampah Organik
Tumbuhan epipit
Sampah Non-organik
Tumbuhan Pelawa
Pot tanaman
Laba-Laba
Angin/udara
Tumbuhan Maja
Sarang Laba-Laba
Tumbuhan Kamboja
Batu

Dari hasil data diatas ditemukan beberapa interaksi yang terjadi dalam ekosistem kebun di SMK PGRI 3 Badung, yaitu
3.1     Interaksi Antara Komponen Biotik Dengan Komponen Biotik
Kami menemukan adanya interaksi yang terjadi antara komponen biotik dengan komponen biotik diantaranya :
a.    Interaksi antara tawon dengan pohon mengkudu.
Diantara kedua komponen tersebut terjadi sebuah interaksi dimana bunga dari pohon mengkudu menyediakan nektar yang adalah makanan bagi tawon, dan secara tidak langsung tawon sekaligus membantu bunga dalam melakukan penyerbukan alami.
b.   Interaksi antara tumbuhan epipit dengan tumbuhan inangnya.
Interaksi yang terjadi antara kedua komponen tersebut iyalah :
Tumbuhan epipit artinya tumbuhan yang menempel pada bagian luar tumbuhan lain. Tumbuhan epipit berbeda dengan benalu yang merugikan tumbuhan yang ditumpanginya. Tumbuhan epipit menempelkan tubuhnya pada kulit, batang, atau cabang tumbuhan yang lain, khususnya pada batang atau dahan yang basah dan lembab. Tumbuhan epipit tidak mengambil zat hara dari jaringan hidup tumbuhan yang ditumpanginya, sehingga tidak merugikan tumbuhan yang ditumpanginya. Sebaliknya tumbuhan epipit memperoleh keuntungan yaitu dapat menumpang serta mendapat air dan zat hara dari kulit batang tumbuhan inangnya.

3.2     Interaksi Antara Komponen Biotik Dengan Komponen Abiotik
Kami menemukan adanya interaksi yang terjadi antara komponen biotik dengan komponen abiotik diantaranya :
a.    Interaksi antara tumbuhan dengan cahaya matahari.
Interaksi yang terjadi diantara komponen tersebut adalah Cahaya Matahari merupakan sumber energi utama dalam suatu ekosistem. Matahari sebagai sumber energi dari semua energi yang ada. Cahaya Matahari digunakan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Tanpa Cahaya Matahari, tumbuhan tidak dapat hidup dan selanjutnya makhluk hidup yang lain juga tidak akan memperoleh kehidupan.
b.   Interaksi antara pengaruh tanah terhadap tumbuhan.
Interaksi yang terjadi diantara kedua komponen tersebut, iyalah :
Tanah merupakan tempat hidup atau media pertumbuhan bagi makhluk hidup (komponen biotik). Bagi tumbuhan, tanah merupakan tempat hidup untuk menancapkan akar dan sebagai sumber nutrisi.
c.    Interaksi antara pengaruh pot tanaman dengan tumbuhan.
Interaksi yang terjadi diantara kedua komponen tersebut, iyalah :
Pot tanaman sebagai media untuk tumbuh , hal ini memungkinkan tumbuhan untuk bertumbuh tidak optimal seperti pada media tanah yang luas tanpa pot. Tumbuhan pada pot umumnya untuk mendapatkan zat hara dan mineral yang penting untuk pertumbuhan, tidak akan sebanyak pada tumbuhan yang tidak menggunakan pot. Hal ini dapat disebabkan karena ruang gerak akar pada tumbuhan untuk menyerap makanan yang sempit, sehingga proses pertumbuhan pada tumbuhan tidak optimal.

3.3     Interaksi Antara Komponen Abiotik Dengan Komponen Abiotik
Kami menemukan adanya interaksi yang terjadi antara komponen biotik dengan komponen biotik diantaranya :
a.      Interaksi antara batu dengan air
Batu dapat terkikis oleh air atau gendangan air karena air memiliki kadar asam dan kapur yang lumayan tinggi. Sehingga memungkinkan batu dapat terkikis.
b.      Interaksi antara sampah non-organik dengan tanah
Pada dasarnya sampah non-organik adalah sampah yang sulit terurai oleh mikroba tanah. Jika sampah non-organik dibiarkan saja ditanah, maka akan dapat mencemarkan tanah, mikroba tanah terganggu, zat hara, nutrium dan mineral pada tanah tercemar, air yang diserap tanah tercemar, dan menyebarnya zat kimia yang berbahaya ke permukaan tanah menyebabkan pertumbuhan pada tumbuhan tidak optimal.








BAB IV
PENUTUP
4.1         Kesimpulan
1.      Ekosistem merupakan suatu tatanan kesatuan antara komponen-komponen yang saling berinteraksi dan adanya timbal balik atau saling mempengaruhi satu sama lain.
2.      Aktivitas dan interaksi antar komponen ekosistem memungkinkan proses kehidupan terus berlangsung dan berkesinambungan. Di dalam ekosistem terjadi interaksi diantara komponen biotik dan biotik, abiotik dan abiotik, biotik dengan abiotik.
3.      Tumbuhan berperan sebagai produsen karena dapat membuat makanannya sendiri atau berfotosintesis. Dalam melakukan fotosintesis yang dibutuhkan adalah cahaya matahari. Tanpa cahaya matahari tumbuhan tidak dapat hidup sekaligus makhluk hidup yang lain juga tidak akan memperoleh kehidupan.
4.      Tanah merupakan media atau tempat hidup atau tempat pertumbuhan bagi makhluk hidup, jika tanah tercemar otomatis akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mikroba tanah yang ada di dalamnya, secara tidak langsung mikroba yang membantu menyediakan unsur hara bagi tumbuhan akan mati dan tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan optimal.
4.2         Saran
1.      Perlu kesadaran sejak dini bagi warga SMK PGRI 3 Badung dalam menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan yang ada di sekolah maupun di luar sekolah.
2.      Perlu kesadaran sejak dini untuk tidak membuang sampah sembarangan, terlebih lagi sampah non-organik yang berbahaya yang dapat mencemarkan tanah.




Daftar Pustaka
Modul Ilmu Pengetahuan Alam Kelas XII Semester 1. CV Haka MJ. 2006
www.wikipedia.org